Note on Chicken Farming

Yesterday I visited a Broiler Chicken Farming belonging to Pak Narto, a friend of mine, in a village, West of Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.  He had three chicken coops for raising total of 95.000 chickens.  Each coop produces 8-9 trucks of waste consisting of rice husk and chicken manure per 40 days. He told me that he had difficulties in handing more or less 26 trucks per 40 days.  I gave him two options: 1. Mix well the material, pile it up up to 1.5 m height 2 m wide, add biostarter of fungal origin layer by  layer 30 cm thick during piling, cover the pile with thick UV resistant plastic sheet for at least tree month composting process. Of course it will need a substantially large area of land; 2. Use a small scale combustion system to produce heat from the waste. He told me that heating is needed during the first 10 days of raising the chicks and so far they had been using 25 of 12 kg gas cylinders per coop, or a total of 75 cylinders per 40 day-cycle. For the gas he has to spend US$ 600 to US$ 700 per cycle.

Idonesia demand is 2,2 billion chickens per year. A lot of small scale combustion system should be needed for raising chicken alone.

Membuat obat penurun cholesterol dan tekanan darah tinggi

Baru-baru ini dalam acara makan malam bersama di Palembang, mengemuka tentan ramuan obat herbal yang mujarab untuk penurunan tekanan darah tinggi dan cholesterol, penyakit yang banyak diderita terutama para manula.  Semuanya merupakan bahan alam yang sudah sering dikonsumsi oleh manuasia. Dengan seksama saya mencermati dan mencatat resep pembuatan ramuan obat tradisional tersebut sebagai berikut.

Bahan baku:

1, 250 gram bawang putih satu butiran

2. 250 gram jahe segar

3. 250 gram lemon

4. 250 cc cuka apel

5. 500 cc  madu asli

Cara membuatnya (sedikit modifikasi):

1. Tumbuk atau blender secara terpisah jahe, bawang putih dan lemon sampai halus

2. Campur dengan cuka apel, kemudian aduk merata

3. Masak dengan api kecil dengan panci gelas berpenutup menggunakan api keci

4. Biarkan di atas api sambil sesekali diaduk sampai volumenya menurun hingga tinggal tiga perempatnya, atau segera setelah terjadi perubahan warna cairan yang semula segar menjadi sedikit kecokelatan.

5. Tunggu dingin kemudian saring sambil diperas, ampasnya dibuang.

6. Tambahkan madu asli kemudian campur secara merata, masukkan ke dalam botol kaca.

7. Simpan obat herbal di dalam kulkas.

Image

Cara Penggunaan:

1. Untuk penderita tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi, minum 1 sendok makan 2 kali sehari.

Semoga Allah swt mengangkat penyakit kita dan memberikan kesehatan kepada kita semua. Aaamiin…!

Gunung Kelud dan Legenda Lembu Suro

Sambil menghilangkan rasa penat berada di pesawat, saya menemukan bacaan yang menarik di Majalah Lionmag terbitan Februari 2014 Halaman 58 -60. Secara penuh isinya saya salin apa adanya. Tujuannya bukan untuk mengajak pembaca mempercayai sebuah legenda, tetapi untuk mengemukakan adanya keragaman kultur dan budaya di negara tercinta kaya raya ini. Legenda adalah cerita yang dikarang setelah adanya kejadian. Toh pada letusan Gunung Kelud Terakhir, debunya sampai dan mampu menyelimuti kota Solo dan Yogyakarta setebal 5 cm. Berikut salinan bagian dari sebuah artikel seperti yang diterbitkan di Majalah Lionmag tersebut.

Seperti daerah-daerah lain, keberadaan Gunung Kelud juga tidak bisa lepas dari legenda lokal yang dipercaya masyarakat turun temurun. Konon Gunung Kelud bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami karena energi magma bumi, seperti lazimnya proses terjadinya gunung. Gunung Kelud terbentuk dari pengkhianatan cinta seorang putri bernama Kilisuci terhadap dua raja sakti, Maheso Suro dan Lembu Suro. Kala itu Dewi Kilisuci, putri ke tiga dari Kerajaan Jenggala (Kediri) yang terkenal atas kecantikan parasnya, dilamar untuk diperistri dua raja tersebut. Ternyata melamar bukan dari bangsa manuasia. Lembu Suro merupakan sosok berkepala Lembu (sapi) dan Maheso Suro adalah sosok berkepala Mahesa (kerbau). Karena kenyataan tersebut, Dewi Kilisuci bersiasat menolak lamaran mereka. Suatu hari ia membuat sayembara yang, tampaknya, mustahil bisa dipenuhi siapapun. Wujud sayembara itu adalah membuat dua sumur. Satu sumur berbau amis, sedangkan sumur lainnya berbau wangi. Sayembara ini harus dilaksanakn selama satu malam harus selesai menjelang fajar tiba. Dengan kesaktiannya, Lembu Suro dan Maheso Suro menyanggupi memenuhi sayembara itu. Di luar dugaan, merekapun berhasil merampungkan permintaan Dewi Kilisuci. Akan tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri salah satu dari dua raja tersebut.

Dibuatlah satu permintaan lagi. Kedua raja itu harus benar-benar membuktikan kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara masuk ke dalamnya. Karena terpedaya rayuan Dewi Kilisuci, keduanya pun menuruti permintaan itu dan masuk sumur. Ketika dua raja itu berada dalam sumur, Dewi Kilisuci meminta prajuritnya menimbun sumur tersebut dengan batu. Tamatlah riwyt Lembu Suro dan Maheso Suro. Namun sebelum ajal Lembu Suro sempat bersumpah, “Ya, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung (Ya, orang Kediri besok akan mendapat balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai,  Blitar akan rata menjadi daratan, dan Tulungagung akn jadi danau)”. Di legenda itu, masyarakat lereng Gunung Kelud pun melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah yang pernah diucapkan Lembu Suro.

24 SEPTEMBER HARI YANG SANGAT SPESIAL BUATKU

Tepat hari ini setahun yang lalu, 24 September 2012, aku jatuh bebas dari ketinggian 2.5 meter tak safarkan diri di rumahku. Tulang punggungku patah di 3 titik, dirawat di RSPAD 2 minggu dan dilanjutkan bedrest di rumah selama 1.5 bulan. Istriku tercintalah yang dengan tulus dan ikhlas mendampingiku dan merawatku selama dua bulan. Syukur alhamdulillah, aku mengalami penyembuhan tahap demi tahap, yang pada akhirnya saya kini sudah merasa pulih total. Bagaimanapun juga, karena namanya “balung tuwo” ya masih juga belum kuat gendong cucu terlalu lama. Untuk tidak terulang lagi, tentunya aku harus menghentikan aktifitas yang dulu aku lakukan yaitu naik genting betulin atap, naik atas kanopi rumah nyiram bunga, dan tentunya melakukan semua aktifitas dengan hati-hati. Himbauanku kepada rekan-rekan yang sudah berumur jangan lagi manjat-manjat. Serahkan pekerjaan panjat-memanjat kepada yang berhak dan ahlinya. Semoga Allah swt selalu melindungi kita semua. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Presentasi Pengelolaan Limbah Orgnik di Lingkungan Kampus

Tahukah anda bahwa keterlibatan Dr. Darmono Taniwiryono dalam pengelolaan limbah organik pasar tradisonal telah di mulai sejak tahun 2008? Ya betul. Kerangka dasarnya adalah untuk sosialisasi penggunaan biodekomposer Promi. Waktu itu Dr. Darmono Taniwiryono, atau lebih dikenal dengan sebutan Pak DT, mendapat kepercayaan Yayasan Danamon Peduli, untuk mengintroduksikan dan mengaplikasikan teknologi pengomposansampah organik pasar tradisional dengan Promi di Pasar Bantul dan Pasar Sragen. Pernah juga diundang oleh Bupati Purbalingga, yang sekarang menjadi Wakil Gubernur Jateng, untuk presentasikan pengelolaan limbah organik. Ketertarikannya untuk menangani sampah organik pasar tradisional dan rumah tangga tak pernah pudar dan bahkan mengembangkan alat pengomposan sederhana yang sedang daijukan patennya bersama Dr. Asmini Budiani.
Pada acara di Universitas Brawijaya (UB) tanggal 27 Agustus 2013, yang dibuka langsung oleh Rektor UB dan dihadiri oleh Dekan FapertUB, diundang juga Professor Dr. Eng. Tsuyoshi Imai, Division of Environmental Science and Engineering, Graduate School of Scioence and Engineering, Yamaguchi University, sebagai pembicara tamu. Pertemuan antara Pak DT dan Professor Tsuyoshi memang diperlukan untuk membangun kerjasama penelitian pengembangan agensia hayati penjaga kelembaban tanah untuk lahan kering dan pendegradasi herbisida di dalam tanah dengan dana dari kementerian keuangan.
UB memiliki hasrat yang kuat untuk menjadi Worldclass University dan untuk itu dalam masalah penanganan limbah di lingkungan kampus juga harus world class. Semoga yang disampaikan oleh Pak DT pada acara yang diselenggarakan di Hotel UB ini bermanfaat bagi semua pihak. Aamiin.

Kekuatan Masyarakat sebagai Ujung Tombak Penegakan Keamanan dan Kedaulatan Pangan

Hari Pangan Sedunia (HPS) sudah berlalu bersamaan dengan disyahkannya Undang-Undang Pangan yang baru oleh DPR RI. Mudah-mudahan dengan semangat baru, pada HPS tahun yang akan datang petani Indonesia benar-benar bisa merasakan manfaatnya. Saya sangat setuju dengan salah seorang guru ekonomi pertanian kita, yang menanyakan relevansi HPS baru-baru ini untuk Indonesia. Meskipun tidak menguraikan alasannya, namun bisa dipastikan karena kondisi pangan kita saat ini belum berada pada posisi aman dan berdaulat. Pertanyaannya sangat sederhana, pada “perayaan” HPS, golongan manakah yang mengenyam keuntungan dari bisnis pangan dan paling bergembira di HPS ini? Jawabannya, tentu pasti bukan petani gurem kita dan bukan kaum miskin kita, tetapi para eksportir benih, para eksportir buah, para eksportir sapi, para eksportir pupuk dan lain-lain dari luar negeri ke Indonesia. Lalu siapakah yang paling gembira di HPS ini di Indonesia? Tentunya terlalu sensitif untuk dijawab, tetapi lagi-lagi yang pasti bukan petani gurem kita dan bukan orang-orang miskin di antara kita.

Jadi pada dasarnya, di Indonesia HPS tidak relevan kita rayakan sebelum keamanan pangan dan kedaulatan pangan nasional kita bisa kita wujudkan.  Jawaban terhadap segala permasalahan keamanan pangan dan kedaulatan pangan tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab salah satu kementerian saja untuk menjawabnya. Kata “pangan” adalah kata benda, sejajar dengan “sandang” dan “papan”. Sedangkan kata “pertanian” adalah dinamika untuk menghasilkan pangan itu sendiri. Namun jika sudah berbicara stok, perdagangan, industri pangan dan turunannya, dinamika dan tanggungjawabnya berada pada birokrasi selain pertanian. Bahkan keterlibatan Pertahanan dan Keamanan sangat diperlukan dalam menjaga kemanan dan mengawal tegaknya kedaulatan pangan nasional. Kita wajib bersyukur hal itu sudah diakomodasi di dalam UU Pangan yang baru yang mengamanahkan dileburnya Badan Ketahanan Pangan (BKP), Badan Pengawasan Obat dan Minuman BPOM), dan Dewan Ketahanan Pangan (DKP) dilebur menjadi satu.

Terlepas dari hirukpikuknya politik pasca disyahkannya UU Pangan baru dan tanpa menunggu badan pangan baru hasil peleburan yang bakal bertanggungjawab langsung kepada Presiden dibentuk, kesempatan masa transisi ini harus digunakan untuk melakukan perenungan nasional dan untuk melakukan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kementerian terkait dan bahkan seluruh komponen masyarakat, merumuskan kegiatan nyata yang bisa dilakukan mulai saat ini juga. Peran masyarakat justru bisa lebih dahsyat sumbangannya dalam menciptakan keamanan dan kedaulatan pangan di tanah air, karena pangan sangat melekat dengan budaya dan kepercayaan terhadap agama yang dipeluknya. Yang disuaran dalam tulisan ini bukan sekedar pernyataan bahwa peleburan tiga lembaga itu saja tidak cukup dan tuntutan terhadap keterlibatan Kementerian lain, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Peranan Wanita kadang dengan birokrasinya yang ruwet dan tidak membumi, tetapi harapan besar terhadap keterlibatan langsung masyarakat khususnya-Ibu rumah tangga.

Mengapa Ibu-Ibu rumah tangga? Pendidikan dan bimbingan makan terhadap anak, yang pertama melakukan adalah Ibu, bahkan sejak dari lahir dengan memberikan air susu yang mengandung gizi dan nilai nutrisi tinggi. Sampai dengan anak berumur lima tahun, pendidikan dan bimbingan makan terhadap anak masih dilakukan oleh Ibu. Pola makan anak mulai terpengaruh oleh lingkungan ketika masuk TK, namun peran Ibu masih sangat besar dalam membina jenis makan apa yang nantinya menjadi kesukaan anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa. Anak-anak di bawah umur 7 tahun, memiliki daya simpan memori yang tinggi terhadap apa yang dimakannya. Kalau dari kecil sampai umur 7 tahun bahkan sampai lulus SD sudah dibiasakan makan mie siap saji dan sosis, maka akan sulit kedepannya dirubah untuk makan singkong, ubi jalar, sayur-sayuran dan buah-buahan. Jadi program diversifikasi pangan, sulit berhasil jika tidak dirancang dan diterapkan sejak anak masih balita melalui bantuan Ibu-Ibu. Akan sangat tidak mungkin perubahan pola makan diterapkan pada anak-anak yg sudah tumbuh dewasa dan tua. Dan akan sangat tidak mungkin orang yang sudah biasa makan nasi kemudian tiba-tiba diminta merubah menu utamanya menjadi makan singkong. Jika dikaitkan dengan makanan tradisi lokal, maka hanya Ibunya sendirlah yang bisa memperkenalkan kepada anaknya dengan cara mengolah dan menyajikannya sejak kecil.

Tantangan yang paling berat bagi Ibu-Ibu yang bertugas di rumah adalah adanya televisi karena iklan di televisi merupakan media yang ampuh untuk mempengaruhi anak-anak untuk makan mie siap saji, sosis siap makan, dan makanan lainnya yang tidak mengandung makna tradisi lokal. Kepada Ibu-Ibu yang kebetulan bekerja meninggalkan anak sejak anak berumur 3 bulan, diharapkan bertanggungjawab penuh untuk mengendalikan pengasuh anaknya agar kegiatan yang serupa seperti tersebut di atas bisa dilaksanakan dengan penuh disiplin dan selalu dipantau. Harapan kepada Ibu-Ibu pejabat tidak sekedar jangan membawa tas mewah seperti yang dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakowi belakangan ini, tetapi harus melebur dengan Ibu-Ibu lain di perkampungan-perkampungan padat penduduk melaksanakan program-progran praktis, termasuk meningkatkan pengetahuan kepada Ibu-Ibu untuk membangun tradisi makan yang bergizi dan bermuatan lokal dengan segala bentuk pilihannya, termasuk mengarahkan agar anak-anak ketika tumbuh besar senang makan sayur-sayuran dan buah-buahan.

Komponen masyarakat yang berpengaruh untuk ikut serta menegakkan keamanan dan kedaulatan pangan adalah tokoh adat dan tokoh agama. Di beberapa daerah peran tokoh adat sangat kental sekali dalam masalah pangan. Di beberapa daerah bahkan menebang pohon merupakan kegiatan yang bersifat sakral, dan di beberapa daerah makanan tradisional dipertahankan, namun sementara ini tinggal sebatas pada acara-acara adat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ada wadah non-formal yang bisa digerakkan dan dibangun kembali kelembagaannya dan kekuatannya. Tentu saja untuk itu pemerintah berkewajiban untuk ikut serta membiayai.

[Tulisan di atas disiapkan pada saat Hari Pangan Sedunia 2012]

Share pengalaman terjatuh dan patah tulang punggung

Selamat pagi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian. Pada hari ini tanggal 20 Nopember 2012 saya resmi mulai masuk kerja sekemampuan saya setelah hampir 2 bulan absen atas anjuran dokter. Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas do’a Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian sehingga kesehatan saya berangsur-angsur pulih kembali, dan juga atas dorongan moral sehingga saya memiliki spirit yang kuat untuk bisa sembuh.

Melalui media ini saya ingin share pengalaman saya kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian mudah-mudahan bermanfaat. Musibah bisa menimpa siapa saja. Pada tanggal 24 September lalu saya jam 6 pagi terjatuh bebas dari kanopi jendela setinggi 2.5 meter yang mengakibatkan patah tulang punggung saya di belakang lambung.

Pada saat jatuh, saya berada di persimpangan antara hidup dan mati karena saya tidak sadarkan diri, mata saya melotot, ngorok, dan keluar air liur. Untung saya begitu jatuh segera mendapat pertolongan tetangga (begitu pentingnya berhubungan baik dengan tetangga)yang secara tidak sengaja ketika menolong saya menyebabkan terjadinya aliran oksigin di dalam tubuh saya sehingga tidak lama kemudian saya sadar kembali. Kalau tidak ketahuan dan tidak ada yang menolong, akibatnya bisa sangat fatal.

Tulang punggung yang posisinya di belakang lambung merupakan tempat di mana syaraf-syaraf dari otak ke ujung kaki terhubung. Oleh karena itu, patahnya tulang punggung pada bagian tersebut bisa mengakibatkan kelumpuhan dan atau kebutaan. Saya sangat bersyukur karena meskipun terjadi patah tulang punggung di bagian vital tersebut, dari test fisik dan MRI syaraf-syaraf saya dinyatakan oleh dokter dalam kondisi normal, dan tindakan operasi tidak perlu dilakukan.

Rekomendasi dokter saya diharuskan untuk bedrest selama 6 minggu. Jadi selama waktu tersebut (dikurangi 7 hari dirawat di rumah sakit) saya bedrest di rumah dengan menggunakan pemper dan pispot. Tentunya yang jadi perawat ya istri saya. Pasca bedrest selama 6 minggu, ternyata menyebabkan untuk pertama kali saya susah duduk dan tidak mampu berdiri karena otot-otot tubuh melemah. Dalam waktu 2 minggu terakhir saya habiskan waktu saya untuk fisioterapi, dan alhamdulillah otot-otot saya menguat kembali dan kini sudah bisa berjalan cukup normal dan masuk kantor.

Sesuai rekomendasi dokter, selama dua bulan ke depan saya tidak boleh melakukan perjalanan jauh, tidak boleh mengangkat barang berat, dan harus menjaga tidak terjatuh lagi, serta tidak memaksakan diri. Intinya jika terasa capek jalan dan duduk harus merebahkan diri dulu secukupnya. Jadi kalau ke kantor saya, jangan heran kalau ada kursi roda yang bisa direbahkan. Mulai saat ini saya harus meninggalkan hobi panjat-memanjat urusin tanaman hias. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat dan salam sejahtera buat kita semua.

Darmono Taniwiryono

Penggunaan Istilah Ketahanan Pangan Harus Ditinggalkan

Di media elektronik dan media cetak sering sekali terjadi perdebatan masalah ketahanan pangan, yang ternyata sudah berlangsung sudah sejak tahun 1970an. Diskusinya sering tidak terarah dan tercampur aduk dengan kemandirian pangan, keamanan pangan, kedaulatan pangan dan lainnya. Hal tersebut terjadi karena penggunaan istilah ‘ketahanan pangan’ tidak tepat. Dalam bahasa Indonesia, kata ketahanan biasanya diikuti dengan kata terhadap. Contohnya, ketahanan tubuh terhadap serangan penyakit, ketahanan nasional terhadap serangan asing, ketahanan tanaman terhadap kekeringan, dan lain-lain. Sekarang pertanyaannya adalah ketahanan pangan terhadap apa? Kalau jawabannya ketahanan pangan terhadap serangan rayap, barulah istilah ketahanan tepat digunakan. Oleh karena tidak tepat dan menimbulkan perdebatan yang tidak mengarah, maka penggunaan istilah ketahanan pangan wajib ditinggalkan.
Setelah diselidiki ternyata kata ketahanan pangan diterjemahkan dari “food security”. “Secure” artinya aman dan “security” artinya keamanan. Hampir seluruh negara di dunia menggunakan terjemahan yang benar. Di dalam bahasa Portugis diterjemahkan “seguranca alimentar”, dalam bahasa Sepanyol “la seguridad alimentaria”, dalam bahasa Perancis “la securite alimentaire”, dan dalam bahasa Malaysia “keselamatan makanan”. Jadi hanya di Indonesia yang salah penterjemahannya.
Tentunya ada yang kemudian mempertahankan penggunaan istilah ketahanan pangan karena sudah digunakan di dalam Undang-Undang No. 7 tahun 1986 dan bahkan dalam Undang-Undang Pangan yang baru disyahkan oleh DPR kata ‘ketahanan pangan’ masih digunakan. Lah, kalau undang-undang kan yang membuat orang atau dalam hal ini DPR dan kalau tahu salah dan sering membingungkan dalam diskusi publik ya harus diluruskan dan diganti oleh DPR. Atau dalam implementasinya nanti pemerintah bisa menggunakan istilah yang benar.
Banyak negara mengacu definisi keamanan pangan yang dikeluarkan oleh World Bank tahun 1986 yaitu “secure access at all times to sufficient food for a healthy life” atau ‘keamanan akses bagi semua orang pada setiap waktu terhadap pangan dalam jumlah yang cukup untuk dapat hidup sehat’. Pada tahun 1997, FAO mendefinisikan “food security” sebagai kondisi di mana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi semua anggota keluarganya, di mana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut, sedangkan Mercy Corps, baru-baru ini (2007) mendefinisikannya sebagai keadaan ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap kecukupan pangan, aman dan bergizi untuk kebutuhan gizi sesuai dengan seleranya untuk hidup produktif dan sehat. Jadi antara judul “food security” dan isinya pas.
Dalam pelajaran bahasa Indonesia, sering diminta untuk memilih judul sebuah tulisan. Jika pertanyaannya judul apa yang tepat untuk program nasional yang berisi harapan terpenuhinya pangan dengan ketersediaan yang cukup, tersedia setiap saat di semua daerah, mudah diperoleh, aman dikonsumsi, dan dengan harga yang terjangkau, maka jawaban yang tepan tentunya ‘Keamanan Pangan’ bukan ‘Ketahanan Pangan’. Penggunaan kata ‘aman’ sebenarnya sudah dipakai sehari-hari khususnya selama lebaran. Jawaban terhadap pertanyaan yang sering dilontarkan terhadap stok beras, stok gula, stok kedelai dan lain-lain, adalah ‘aman’. Dengan menggunakan istilah atau terjemahan yang tepat mudah-mudahan diskusi kita dan juga implentasi program-program kita ke depan bisa lebih terarah dan tepat. Implikasinya dari perubahan ini ckup besar karena cara untuk mencapai ‘keamanan pangan’ tidak hanya menjadi tugas Kementerian Pertanian saja karena menyangkut berbagai aspek termasuk pertanian itu sendiri, distribusi, penggudangan, penjagaan kulaitas mutu gizi, penyelundupam, monopoli, ancaman bioterisme, perdagangan, kebudayaan, agama, peranan wanita dan lain sebagainya. Kedaulatan pangan harus termasuk di dalam program ‘keamanan pangan’.
Di dalam UU Pangan yang baru kepada pemerintah diamanahkan agar Badan Ketahanan Pangan (BKP), Badan Pengawasan Obat dan Minuman BPOM), dan Dewan Ketahanan Pangan (DKP) dilebur menjadi satu paling lambat dalam waktu tiga tahun. Saat ini merupakan waktu yang tepat sekaligus untuk melakukan bebenah secara menyeluruh.

Survival of Hermetia illucens maggot under extreme condition

Survival of Hermetia illucens maggot under extreme condition

Di mana-mana areal TPS dan TPA sampah kota terbatas dan ditolak masyarakat

Image

Post Navigation