Gunung Kelud dan Legenda Lembu Suro

Sambil menghilangkan rasa penat berada di pesawat, saya menemukan bacaan yang menarik di Majalah Lionmag terbitan Februari 2014 Halaman 58 -60. Secara penuh isinya saya salin apa adanya. Tujuannya bukan untuk mengajak pembaca mempercayai sebuah legenda, tetapi untuk mengemukakan adanya keragaman kultur dan budaya di negara tercinta kaya raya ini. Legenda adalah cerita yang dikarang setelah adanya kejadian. Toh pada letusan Gunung Kelud Terakhir, debunya sampai dan mampu menyelimuti kota Solo dan Yogyakarta setebal 5 cm. Berikut salinan bagian dari sebuah artikel seperti yang diterbitkan di Majalah Lionmag tersebut.

Seperti daerah-daerah lain, keberadaan Gunung Kelud juga tidak bisa lepas dari legenda lokal yang dipercaya masyarakat turun temurun. Konon Gunung Kelud bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami karena energi magma bumi, seperti lazimnya proses terjadinya gunung. Gunung Kelud terbentuk dari pengkhianatan cinta seorang putri bernama Kilisuci terhadap dua raja sakti, Maheso Suro dan Lembu Suro. Kala itu Dewi Kilisuci, putri ke tiga dari Kerajaan Jenggala (Kediri) yang terkenal atas kecantikan parasnya, dilamar untuk diperistri dua raja tersebut. Ternyata melamar bukan dari bangsa manuasia. Lembu Suro merupakan sosok berkepala Lembu (sapi) dan Maheso Suro adalah sosok berkepala Mahesa (kerbau). Karena kenyataan tersebut, Dewi Kilisuci bersiasat menolak lamaran mereka. Suatu hari ia membuat sayembara yang, tampaknya, mustahil bisa dipenuhi siapapun. Wujud sayembara itu adalah membuat dua sumur. Satu sumur berbau amis, sedangkan sumur lainnya berbau wangi. Sayembara ini harus dilaksanakn selama satu malam harus selesai menjelang fajar tiba. Dengan kesaktiannya, Lembu Suro dan Maheso Suro menyanggupi memenuhi sayembara itu. Di luar dugaan, merekapun berhasil merampungkan permintaan Dewi Kilisuci. Akan tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri salah satu dari dua raja tersebut.

Dibuatlah satu permintaan lagi. Kedua raja itu harus benar-benar membuktikan kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara masuk ke dalamnya. Karena terpedaya rayuan Dewi Kilisuci, keduanya pun menuruti permintaan itu dan masuk sumur. Ketika dua raja itu berada dalam sumur, Dewi Kilisuci meminta prajuritnya menimbun sumur tersebut dengan batu. Tamatlah riwyt Lembu Suro dan Maheso Suro. Namun sebelum ajal Lembu Suro sempat bersumpah, “Ya, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung (Ya, orang Kediri besok akan mendapat balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai,  Blitar akan rata menjadi daratan, dan Tulungagung akn jadi danau)”. Di legenda itu, masyarakat lereng Gunung Kelud pun melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah yang pernah diucapkan Lembu Suro.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: