Penggunaan Istilah Ketahanan Pangan Harus Ditinggalkan

Di media elektronik dan media cetak sering sekali terjadi perdebatan masalah ketahanan pangan, yang ternyata sudah berlangsung sudah sejak tahun 1970an. Diskusinya sering tidak terarah dan tercampur aduk dengan kemandirian pangan, keamanan pangan, kedaulatan pangan dan lainnya. Hal tersebut terjadi karena penggunaan istilah ‘ketahanan pangan’ tidak tepat. Dalam bahasa Indonesia, kata ketahanan biasanya diikuti dengan kata terhadap. Contohnya, ketahanan tubuh terhadap serangan penyakit, ketahanan nasional terhadap serangan asing, ketahanan tanaman terhadap kekeringan, dan lain-lain. Sekarang pertanyaannya adalah ketahanan pangan terhadap apa? Kalau jawabannya ketahanan pangan terhadap serangan rayap, barulah istilah ketahanan tepat digunakan. Oleh karena tidak tepat dan menimbulkan perdebatan yang tidak mengarah, maka penggunaan istilah ketahanan pangan wajib ditinggalkan.
Setelah diselidiki ternyata kata ketahanan pangan diterjemahkan dari “food security”. “Secure” artinya aman dan “security” artinya keamanan. Hampir seluruh negara di dunia menggunakan terjemahan yang benar. Di dalam bahasa Portugis diterjemahkan “seguranca alimentar”, dalam bahasa Sepanyol “la seguridad alimentaria”, dalam bahasa Perancis “la securite alimentaire”, dan dalam bahasa Malaysia “keselamatan makanan”. Jadi hanya di Indonesia yang salah penterjemahannya.
Tentunya ada yang kemudian mempertahankan penggunaan istilah ketahanan pangan karena sudah digunakan di dalam Undang-Undang No. 7 tahun 1986 dan bahkan dalam Undang-Undang Pangan yang baru disyahkan oleh DPR kata ‘ketahanan pangan’ masih digunakan. Lah, kalau undang-undang kan yang membuat orang atau dalam hal ini DPR dan kalau tahu salah dan sering membingungkan dalam diskusi publik ya harus diluruskan dan diganti oleh DPR. Atau dalam implementasinya nanti pemerintah bisa menggunakan istilah yang benar.
Banyak negara mengacu definisi keamanan pangan yang dikeluarkan oleh World Bank tahun 1986 yaitu “secure access at all times to sufficient food for a healthy life” atau ‘keamanan akses bagi semua orang pada setiap waktu terhadap pangan dalam jumlah yang cukup untuk dapat hidup sehat’. Pada tahun 1997, FAO mendefinisikan “food security” sebagai kondisi di mana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi semua anggota keluarganya, di mana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut, sedangkan Mercy Corps, baru-baru ini (2007) mendefinisikannya sebagai keadaan ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap kecukupan pangan, aman dan bergizi untuk kebutuhan gizi sesuai dengan seleranya untuk hidup produktif dan sehat. Jadi antara judul “food security” dan isinya pas.
Dalam pelajaran bahasa Indonesia, sering diminta untuk memilih judul sebuah tulisan. Jika pertanyaannya judul apa yang tepat untuk program nasional yang berisi harapan terpenuhinya pangan dengan ketersediaan yang cukup, tersedia setiap saat di semua daerah, mudah diperoleh, aman dikonsumsi, dan dengan harga yang terjangkau, maka jawaban yang tepan tentunya ‘Keamanan Pangan’ bukan ‘Ketahanan Pangan’. Penggunaan kata ‘aman’ sebenarnya sudah dipakai sehari-hari khususnya selama lebaran. Jawaban terhadap pertanyaan yang sering dilontarkan terhadap stok beras, stok gula, stok kedelai dan lain-lain, adalah ‘aman’. Dengan menggunakan istilah atau terjemahan yang tepat mudah-mudahan diskusi kita dan juga implentasi program-program kita ke depan bisa lebih terarah dan tepat. Implikasinya dari perubahan ini ckup besar karena cara untuk mencapai ‘keamanan pangan’ tidak hanya menjadi tugas Kementerian Pertanian saja karena menyangkut berbagai aspek termasuk pertanian itu sendiri, distribusi, penggudangan, penjagaan kulaitas mutu gizi, penyelundupam, monopoli, ancaman bioterisme, perdagangan, kebudayaan, agama, peranan wanita dan lain sebagainya. Kedaulatan pangan harus termasuk di dalam program ‘keamanan pangan’.
Di dalam UU Pangan yang baru kepada pemerintah diamanahkan agar Badan Ketahanan Pangan (BKP), Badan Pengawasan Obat dan Minuman BPOM), dan Dewan Ketahanan Pangan (DKP) dilebur menjadi satu paling lambat dalam waktu tiga tahun. Saat ini merupakan waktu yang tepat sekaligus untuk melakukan bebenah secara menyeluruh.

Advertisements

Single Post Navigation

3 thoughts on “Penggunaan Istilah Ketahanan Pangan Harus Ditinggalkan

  1. Selamat siang, Pak. saya sangat tertarik untuk membahas food security. Saya mahasiswa Hubungan Internasional, tingkat akhir. Di dalam penyusunan skripsi saya pun mengambil tema tentang food security. Namun, konsep food security ini masih membuat saya kebingungan untuk menggunakan istilah tetap dalam Bahasa Indonesia. Apakah saya harus tetap memakai istilah Ketahanan Pangan atau mulai dengan istilah Keamanan pangan dalam penulisan skripsi saya ini?
    Pada saat seminar proposal, para penguji saya pun masih memperdebatkan istilah ini. Namun sayangnya, kami belum menemukan titik temu apakah harus menggunakan istilah Food Security sebagai Keamanan Pangan atau Ketahanan Pangan? Karena seperti yang saya tahu, pengertian dari Keamanan Pangan dan Ketahanan Pangan menurut kebijakan pangan Indonesia adalah berbeda.
    Ketika Bapak menulis artikel ini, saya menjadi lebih tertarik lagi untuk mengkaji Food Security, dan saya ingin sekali meluruskan istilah ketahanan pangan yang sering masyarakat Indonesia pakai menjadi keamanan pangan, dengan cara membuat skripsi saya ini menghasilkan pemahaman yang universal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: