Kontribusi Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Land-Cover Change

Pertambahan pendudukuk dunia dengan percepatan yang tinggi tidak dapat dielakkan. Kebutuhan pangan sandang, pangan dan papan tidak dapat dielakkan. Land-use and land-cover change (LULCC) atau dipermudah istilitahnya menjadi land change juga tidak bisa dhindari karena aktivitas manusia yang semakin meningkat untuk memenuhi ketiga butuhan pokok tersebut. Bagaimana sebuah negara memenuhi kebutuhan pokok hidup untuk mensejahterkan rakyatnya dengan melalui pemeliharaan dan penggunaan bumi di wilayahnya merupakan kedaulatan negara tersebut. Pembangunan kelapa sawit di Indonesia memiliki fungsi ganda yang sangat sinifikan dalam memecahkan permasalahan land change dalam rangka pemenuhan kebutuhan penduduk Indonesia dan penduduk dunia.

Dalam perkembangan kelapa sawit selama lebih dari 100 tahun, banyak pelajaran yang sangat berharga yang tidak dimiliki oleh negara lain yang bisa menjadi bekal untuk memperbaiki diri guna menanggapi permasalahan land change yang memang benar jika tidak terkendali akan merugikan kita sendiri. Dampak negatifnya memang bisa berimbas kepada penduduk di negara-negara lain di dunia, namun perlu dicatat bahwa setiap negara memiliki aktivitas yang tinggi bahkan berusaha setinggi-tingginya untuk kemakmuran rakyatnya, dengan cara mereka masing-masing, yang berkontribusi juga terhadap climate-change, meskipun aktivitasnya dilakukan di tempat yang sangat terbatas yaitu lingkungan industri. Land change di negara-negara agraris dan kegiatan industri intesif di negara-negara maju memiliki kontribusi yang sama terhadap climate change.

Land-cover change dan land-use change memiliki arti yang berbeda. Land-cover change diartikan sebagai perubahan fisik dan biologis penutupan tanah oleh vegetasi termasuk air. Pengamatan terhadap land-cover change biasanya dilakukan dengan remote sensing. Sedangkan land-use change memiliki arti yang lebih kompleks karena menyangkut juga perspektif alam (natural) dan sosial ekonomi terhadap perubahan penggunaan lahan atas aktivitas manusia yang berdampak terhadap perubahan proses yang terjadi di permukaan bumi termasuk biogeokimia, hidrologi dan keanekaragaman hayati. Pengamatan terhadap land-use change melibatkan pengamatan dan pengkajian langsung di lokasi.

Perubahan yang mendasar bagi pembangunan perkebunan kelapa sawit di Indonesia baik terhadap land-use change maupun land-cover change hanya terjadi sekali yaitu pada saat pembukaan lahan. Dalam kaitannya dengan land-cover change, pembangunan perkebunan kelapa sawit pada dasarnya tidak memberikan dampak negatif dan justru sebaliknya cenderung ke arah perbaikan ketika pembangunannya dilakukan pada lahan-lahan marginal. Hal ini terjadi karena selama 50 sampai dengan 75 tahun, vegetasi kelapa sawit terjaga dengan baik. Jika dilakukan pengamatan dengan remote sensing tidak akan terjadi perubahan selama kurun waktu 75 tahun tersebut.

Dua hal penting yang memang perlu mendapatkan perhatian adalah seberapa besar perbaikan yang sudah kita lakukan dan kita niatkan, untuk mengusahakan perkebunan kelapa sawit dan industri yang terkait dengan cara-cara yang ramah lingkungan dan bisa menjaga terpeliharanya biogeokimia, hidrologi dan keanekaragaman hayati. Hal yang kedua adalah seberapa besar pembangunan kelapa sawit di Indonesia memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia sendiri, bukan bagi masyarakat negara tetangga, agar kita memiliki kedaulatan sandang, pangan dan papan yang kokoh.

(Pandangan Darmono Taniwiryono, PhD -MAKSI)

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: