Possible Retaliation against Baseless Pressure to Palm Oil Biodiesel

On 09 March, European politicians backed (56 to 1) a non-binding report on sustainable palm oil.  The environment committee votes on the report on 9 March. The report calls on the European Commission to strengthen environmental measures to prevent palm oil-related deforestation and phase out the use of palm oil as a component of biodiesel by 2020. Products should also be certified for the socially responsible origin of their palm oil using a single certification scheme. It will then be up to all Members of European Parliaments (MEPs) to vote on it during an upcoming plenary session next month.

Based on a written statement made by Darmono Taniwiryono, Chairman of Indonesian Oil Palm Society (MAKSI), report used in the vote seemed to be inappropriate. It had not been verified by credible expert who knows exactly the history of deforestation in Indonesia. Massive deforestation had occurred during the booming of timber and plywood industries between 1967 and early 1980’s, immediately after forest concessions (HPH) had been legally granted based on the Forestry Law 1967.

Forest concessions (HPH) is defined as the right to exploit the forest in a certain production forest area which includes the planting, maintenance, protection, harvesting, processing and marketing of forest products, in accordance with the existing regulations and based on a sustainable practices. HPH concession is granted for the duration of 20 years, and an additional 2nd phase 20 years for reforestation.

Between 1969 and 1974, one province alone, East Kalimantan has 11 million ha HPH concession. During that period, timber production had jumped from only 4 million m3 in 1967, to 28 million m3 in 1977, from which 75% were exported. In 1979, Indonesia gained 41% share of the world wood market worth 2.1 billion dollars. In 1995, there were about 585 concessions which cover 63 million ha throughout Indonesia.

European Commission study in 2013 showed that deforestation linked to beef and other ruminant products is 10.5 times greater than that of due to oil palm cultivation. In many countries, biodiesel is mostly produced from soybean and corn, but deforestation linked to soybean and corn are 2.3 and 1.3 times greater, respectively, than that of due to oil palm cultivation. Furthermore, scientific studies reported by Peter Gunarso conducted in 1990, 2000, 2005, and 2010 showed a total conversion of primary forests into oil palm plantations throughout Indonesia is only around 0,71% or 18 235 hectares. According to Darmono, the activities could continue but in a very limited manner due to a strict government supervision, so the percentage of current primary forest conversion into palm oil is only about 0.16% of the total 11.7 million hectares plantation.

MAKSI asks the cancellation of the MEP vote and opens new independent research collaboration between European and Indonesian research scientists. Current move to phase out the use of palm oil biodiesel linked to deforestation is academically unjustified. Indonesia has the right to utilize the WTO forum to obtain non-discriminatory treatment when palm oil biodiesel must be certified. All products related to deforestation including dairy  products, soybean oil, corn oil, and rapeseed oil and their downstream products should also be certified.

Bochure of Virgin Red Palm Oil produced by PT Nutri Palma Nabati

#redpalmoil #palmoil #carotene #tocotrienol #tocopherol #vitaminA #vitaminE

MAKSI Usulkan Kampanye Positif Sawit Lebih Gencar | Sawit Indonesia Online

https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/berita-terbaru/maksi-usulkan-kampanye-positif-sawit-lebih-gencar/

Maksi dorong peningkatan promosi sawit ramah lingkungan – ANTARA News

http://m.antaranews.com/berita/615406/maksi-dorong-peningkatan-promosi-sawit-ramah-lingkungan

El Nino dan peningkatan intensitas serangan OPT pada perkebunan kelapa sawit

Publikasi di Agrinal Vol 11 No. 254 Agustus 2015 Hal: 24-26

Agrina 2 2015Agrina 1 2015

Advetorial POIDEC 2015 di Hotel Borobudur Jakarta 9-10 September 2015

  

Program mandatory Biodiesel Palm Oil Industry Development Conference (POIDEC) 2015

Program Biodiesel

Di Eropa mandatori biodiesel diterpakan guna menekan gas emisi rumah kaca dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak fosil. Namun di sana tetap menjadi kontraversi karena diproduksi dengan minyak nabati seperti minyak kanola, minyak bunga matahari yang juga  juga diperlukan industri makanan. Kepaksaan untuk menggunakan CPO di Eropa cukup tinggi, namun penggunaan CPO dianggap mendorong cepatnya kerusakan hutan di Malaysia dan Indonesia. Pemerintah telah metapkan mandatori  biodiesel  15% per 1 April 2015 bagi sektor transportasi, industri, dan pembangkit listrik, dengan tujuan dapat menekan impor BBM jenis solar dan membantu penyelamatan ekonomi negara. Tentu saja perlu dikemukakan di sini justifikasi penerapan program tersebut utamanya menyangkut keuntungan dan kerugian  bagi bangsa dan negara Indonesia. Tentunya topik diskusi panel ini akan menarik dengan perkembangan terbaru yaitu dana pungutan sawit yang dikelola oleh BPDP.

Klik Program Biodiesel

POIDEC 2015, Hotel Borobudur Jakarta, 9-10 September 2015

Untuk berpartisipasi klik Daftar Sebagai Peserta

Sesi Kebijakan Palm Oil Development Conference (POIDEC) 2015

Header POIDEC 2015 for Line

Terdapat kesalahan persepsi atau penggiringan opini secara sistematik sehingga sebagian besar lapisan masyarakat menganggap sawit identik dengan pengusaha, padahal kenyataannya perkebunan yang dimiliki oleh rakyat mencapai 46 persen. Kesalahan persepsi dan terbangunnya opini yang tidak benar sangat besar pengaruhnya terhadap lahirnya kebijakan yang tidak memihak kepentingan rakyat banyak. Akibatnya, posisi komoditas sawit yang nayata-nyata sebagai penyumbang devisa negara terbesar non-migas, kurang mendapatkan apresiasi yang proposional karena dianggap yang untung besar adalah para pengusaha sawit dan rantai industrinya. Padahal industri minyak sawit juga merupakan sumber penerimaan pemerintah yang besar baik dari pajak badan, pajak bumi bangunan, bea keluaran dan retribusi lainnya. Oleh karena semua pemasukan dari sawit tersebut masuk ke APBN sehingga tidak mudah dialokasikan kembali untuk pengembangan sawit. Bahkan sangat ironis biaya replanting untuk perkebunan rakyat tidak disediakan oleh negara. Padahal jika diberikan biaya replanting produktivitas perkebunan rakyat dapat ditingkatkan dari 3-4 kali lipat, dengan kenaikan produksi antara 11.5 juta sd 16.1 juta ton per tahun. Di samping itu subsidi untuk biodiesel juga tidak disediakan, padahal jika diberikan akan mendongkrak konsumsi sawit dalam negeri dan secara signifikan menghemat impor solar.

Dalam mengahadapi kampanye negatif saat ini seakan para pelaku usaha sawit harus mengahadapi sendiri pihak LSM padahal jelas-jelas kampanye negatif terhadap sawit secara signifikan berdampak kepada kepentingan nasional. Daya saing sawit nasional dapat tergerus oleh isu-isu negatif sawit yang bisa dihembuskan oleh dunia usaha minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai, jagung dan rapes. Kampanye negatif harus dilawan dengan fakta-fakta postitif hasil kajian ilmiah melalui advokasi yang gencar. Namun sangat disayangkan dana R&D dan advokasi sawit juga belum tersedia sesuai harapan.

Pada sesi ini akan hadir pimpinan puncak empat kementerian, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk menyajikan kebijakan-kebijakan apa yang perlu diambil guna menumbuhkembangkan sawit Indonesia dengan memanfaatkan dana pungutan sawit yang mulai pertengahan Juli 2015 diterapkan oleh pemerintah. Secara berturutan topik-topik yang tercakup pada sesi ini adalah: 1. Dukungan Pemerintah Dalam Peningkatan Produktifitas Perkebunan Sawit; 2. Lahan Terlantar, area HCS/HCV dan Arah Sikronisasi Penyelesaiannya; 3. Kiat-kiat Peningkatan Daya Saing Melalui Diplomasi dan Promosi; dan 4. Strategi Percepatan Diversifikasi Industri Sawit.

Pertanyaan tentang berbagai hal dengan dana pungutan sawit yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit akan terjawab pada sesi ini juga oleh Direktur Utama BPDP Kelapa sawit, yang akan tampil sebagai pembicara.

Silahkan klik kata DAFTAR ini untuk melakukan pendataran secara online menjadi peserta POIDEC 2015.

29 tahun bersamamu

China, April 2014 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sabtu, 30 Agustus 2014, merupakan hari yang bersejarah bagiku, karena merupakan hari di mana istriku tercinta pergi untuk selamanya dipanggil Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Duapuluh sembilan tahun terasa pendek. Banyak sekali kenangan yang telah kita buat bersama kedua anakmu, suka dan duka, Setahun (lebih jika saat-saat pacaran dihitung) di Sungei Putih, Galang, Sumatera Utara, 7 tahun di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat, dan 21 tahun di Bogor, Indonesia. Angka 21 nampaknya angka yang khusus bagimu, karena kamu lahir pada tanggal 21 di bulan Juni 1961. 

Kepergianmu memang cukup mengejutkan bagi semua orang, termasuk bagi kedua keluarga besar kita, para tetangga di Baranangsiang Indah, Bogor, sahabat-sahabat dekatmu di Semantig dan Fakultas Pertanian USU Medan, dan sahabat-sahabat dekatmu di pengajian Al Ikhlash, Al Gifari dan di Indraprasta. Kepergianmu hanya berlangsung dalam hitungan menit. Bangun jam 3 pagi, minum 3 gelas air putih, kemudian tahajud merupakan kegiatan rutin kami sekeluarga. Beberapa menit sebelun jam 4 pagi kamu masih tertawa ria denganku. Namun sudah menjadi kehendak Allah swt, begitu kamu selesai wudlu, pas jam 4, kamu terduduk lemas dan mengeluh sesak nafas. Aku dan anakmu bergerak cepat membawamu ke rumah sakit terdekat, Bogor Medical Center (BMC). Di tengah perjalanan menuju BMC diiringi tahlil dan tahmid lirihku kamu masih sempat katakan “maafkan aku ya Pa…!”. Tentu saat itu aku jawab iya. Ketika di rumah sakit, selama dilakukan tindakan darurat, kamupun masih sadar dan berkomunikasi denganku dan anakmu. Namun hanya dalam hitungan 5 menit kamu tidak sadarkan diri kemudian pergi menghadap Sang Khalik, Allah SWT, tepat jam 4:35. Dengan suara pelan dokter menyatakan kamu terkena serangan jantung. Innalillahi wa innailaihi raji’un….! 

Aku ga nyangka kalau kepergian kita berlibur ke Cina bulan April yang lalu (Lihat Foto) merupakan liburan terakhir di luar negeri bersamamu. Aku ga nyangka kalau Ramadhan yang baru lalu merupakan Ramadhan terakhir bagimu. Aku ga nyangka kalau mudik lebaran kemarin merupakan mudik terakhir bagimu karena kamu selalu ceria di perjalanan.

Kamu adalah wanita yang luarbiasa. Di malam hari sebelum kepergianmu, kamu minta aku untuk membaca Surat Al Mulk, dan aku baca Surat yang selalu kamu baca setiap malamnya itu. Kamu selalu mengingatkanku untuk baca surat Al Kahfi di setiap malam Jum’at. Dan kamu mengajari aku meluruskan bacaan Al Qur’an di setiap pagi bagda subuh selama  3 minggu sebelum kepergianmu. 

Kasih sayangmu yang tulus tak pernah surut kepadaku dalam terjangan badai sedahsyat apapun.  Hanya kamulah yang  merawatku selama 2 bulan aku terbaring telentang di atas tempat tidur di rumah pasca aku jatuh dan tulang belakangku retak. Semuanya kamu lakukan dengan penuh kesabaran ketika kamu harus membersihkan dan memandikanku di atas tempat tidur pagi dan sore, membantu aku wudhlu sambil terbaring lima kali sehari, serta memapahku bagai anak kecil ketika aku mulai boleh berdiri dan berlatih jalan di atas kakiku sendiri.

Kamu sungguh wanita yang sangat spesial. Kamu telah buktikan kepada masyarakat bahwa menjadi wanita yang pekerjaannya membesarkan dan mendidik kedua anakmu ternyata tidak lebih jelek dari seorang wanita karir.

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahmu dan mengampuni dosa-dosamu. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Note on Chicken Farming

Yesterday I visited a Broiler Chicken Farming belonging to Pak Narto, a friend of mine, in a village, West of Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.  He had three chicken coops for raising total of 95.000 chickens.  Each coop produces 8-9 trucks of waste consisting of rice husk and chicken manure per 40 days. He told me that he had difficulties in handing more or less 26 trucks per 40 days.  I gave him two options: 1. Mix well the material, pile it up up to 1.5 m height 2 m wide, add biostarter of fungal origin layer by  layer 30 cm thick during piling, cover the pile with thick UV resistant plastic sheet for at least tree month composting process. Of course it will need a substantially large area of land; 2. Use a small scale combustion system to produce heat from the waste. He told me that heating is needed during the first 10 days of raising the chicks and so far they had been using 25 of 12 kg gas cylinders per coop, or a total of 75 cylinders per 40 day-cycle. For the gas he has to spend US$ 600 to US$ 700 per cycle.

Idonesia demand is 2,2 billion chickens per year. A lot of small scale combustion system should be needed for raising chicken alone.

Post Navigation